Ketika saya sampai di Blu Plaza, tepatnya di sebuah ruang mantan Toko Buku, para tutor Fakta Bahasa Bekasi sedang duduk berjejer. Dihadapan mereka wajah-wajah baru yang belum pernah saya lihat. Ada apa ini? Memangnya sudah open recruitment ya?
Ternyata mereka adalah anak-anak SMA kelas 12. Sengaja 5 pemuda itu datang untuk tugas sosiologi : mewawancarai suatu komunitas. Dan komunitas kamilah yang mereka pilih.
Dengan cuek ya saya duduk disamping para tutor karena saya tutor juga. Masalahnya cowok semua, loh! Udah gitu pede banget makan roti dengan lahap samping mereka. Raja Teluk Buyung, sang tutor rusia memperkenalkan saya pada anak-anak SMA. Lalu saya pun diminta memperkenalkan diri dengan bahasa yang saya kuasai : Arab dan Inggris. Tamu kami pada berdecak "waaah" saat saya memperkenalkan diri. Padahal baru bisa 2 bahasa aja masih payah menurut saya (cuih, humblebrag abis. Tiba-tiba saya jijik sama diri sendiri).
Tak lama setelah itu, datanglah Rifiki. Dia salah satu tutor yang bikin saya salut. Jago bahasa Mandarin, Thailand, dan Turki. Cuma satu kelemahannya : bahasa Inggris. Ya, pokoknya dia spesialis bahasa-bahasa Asia. Begitulah dia, baru datang langsung nyerocos lancar. Setelah meledek wajah anak-anak SMA terlalu 'dewasa' (baca : tua), dia memperkenalkan diri dengan bahasa Thailand fasih. Saya saja nggak nangkap sama sekali dia ngomong apa? Kosakata thailand yang saya tau baru "sawadikrap" ,"phom", dan "jai di".
Salah satu anak SMA langsung histeris mendengat tutur thailand fasih milik Rifiki. Pasalnya anak itu penggemar drama thailand. Jadilah nyambung antara mereka berdua. Sama-sama menggemari 'Hormones' dan 'Suckseed'. Kok jadi ingat anak-anak murid saya di SMA? Cuma gara-gara saya bilang suka film thailand, para murid kelas 12 bahasa langsung memberondong saya dengan pertanyaan, "ibu tahu drama thailand 'Hormones',nggak? Kalo 'Suckseed?" saya jawab dengan anggukan singkat. Memang saya tahu cuma sekadar tahu. Bukan berarti penggemar berat. Padahal saya baru nonton film 'Superstar' dan 'Dreamteam'. Belum bisa disebut penggemar film-film Thailand, kan? Diam-diam saya kepo juga sama kedua drama yang sering dihebohkan anak murid. Nanti minta sama Rifiki, ah! Katanya dia punya koleksi lengkap.
Lalu, Dimas ketua Faba Bekasi bertanya kepada para tamu , "apakah kalian berminat gabung di Faba Bekasi?" kebanyakan dari mereka berminat. Rata-rata mereka ingin mendalami bahasa inggris.
"Apa? Bahasa Inggris? Itu udah biasa ,kali! Cetus Rifiki.
"Bahasa Inggris udah terlalu mainstream. Apa kalian nggak ada minat bahasa yang lain?" Tanya Afif, tutor Rusia blasteran Arab-Pakistan-Minang. Si penggemar Thailand senyam-senyum dari tadi. Tentulah dia pilih bahasa Thailand. Rifiki bangga sudah mendapat calon anggota untuk periode mendatang. Sementara yang lain berminat bahasa Korea (The Most!), Jerman, dan Prancis. Rusia sepi peminat. Raja Teluk Buyung dan Afif menghela nafas. Karena saat ini pun anggota club Rusia terancam punah.
"Atau ada yang mau belajar bahasa Arab maghrib (maroko) bersama bunda Sararosa ini?" Rifiki meledek saya. Pertama karena saya guru dan berpenampilan seperti ibu-ibu (padahal muda dan jomblo ting ting). Kedua karena saya sebenarnya tidak bisa bahasa Arab dialek Maghribi. Saya cuma paham dialek Syam dan Mesir. Dialek Maghrib atau Darija sangat aneh. Kreol (mix) antara arab-barbar-prancis.
"Oh, bukan cuma bahasa Arab Maghrib tapi juga bahasa Arab Shubuh, Zhuhur, Ashar, dan Isya!" Balas saya. Setelah itu saya di-bully habis-habisan. Emangnya Shalat 5 waktu.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 . Ya, ampun saya belum shalat Ashar! Bergegas saya menuju musholla. Walau resikonya tidak bisa menikmati bolu dan pepsi pemberian tamu SMA kami.
semangat Bu, tulisannya mengalir lancar. Santai, tapi lucu. salam ODOP.
BalasHapusTerima kasih ya bundanya cinta udah mampir.salam odop juga dari mars
BalasHapus