Senin, 22 Januari 2018

Tentang Gumi dan Pengalaman Hidupnya

Sebelum melanjutkan tulisan saya, Fusha VS Amiya, izinkan saya memperkenalkan diri. Gumi Navya Rosa bukan nama sebenarnya. Kedengarannya seperti saya ingin menjadi orang lain atau membangun identitas baru. Ada alasan bagus mengapa saya menyembunyikan nama asli. Salah satunya karena saya adalah pribadi yang sembrono. Jadi saya takut apa yang saya tulis akan berpengaruh pada kehidupan offline saya. Entah murid saya menemukan catatan-catatan alay gurunya. Ya, itu salah satu ketakutan saya. Disamping itu saya suka terpancing membuka kehidupan pribadi terdalam lewat sebuah kisah. Fiksi atau non-fiksi. Ada pengalaman buruk nan traumatis soal itu.

Walau begitu, saya akan berbagi sedikit informasi diri. Februari adalah bulan yang spesial bagi saya. Bukan valentine, karena perayaan merah jambu hanya menguras kantong untuk sebatang coklat atau mawar merah. Tapi bulan saya dilahirkan. Saya seorang Introvert, phlegmatis melankolis, dan ISTP. Begitulah menurut test personality plus dan Myers-Bigg.  Penggemar episode-episode Adam Ruins Everything, Jimmy Kimmel's Show, dan Salith Ikhbary-nya Nikolas Khoury. Saat ini sedang belajar menyukai acara Khawatir-nya Ahmad Shugairi asal UEA yang kata Nikolas Khoury sangat bagus. Selain itu juga berusaha memahami dialek Mesir dari acara Joe Show dan El-Bernameg setelah merasa sedikit mudeng dengan dialek syami-nya Nikolas. Selain itu, saya juga tidak pernah merasa bosan menonton film Sweeny Todd : Demon Barber of Fleet Street. Oh ya, saya pun suka merasa mellow setelah mendengar lagu-lagu Arab dan kadang juga India.

Saya ini orang yang rentan stress dan lelah. Memang dasar introvert dengan self-blaming tinggi. Berada di keramaian juga bikin capek. Tapi dari jaman kuliah, saya ingin terlihat normal seperti orang pada umumnya : bergaul, berorganisasi, ikut komunitas sana sini. Sejatinya mah lebih suka menyendiri.

Ehm saya sangat menyukai bahasa Arab dan Inggris. Memang saya bukan orang yang piawai, tapi itulah yang membuat saya menjadi seorang guru saat ini. Mengajar Nahwu, Sharaf, dan Balaghah (sastra arab). Disamping itu juga mengajar privat bahasa Inggris. Menurut saya belajar bahasa adalah belajar yang paling santai karena saya bisa melakukannya sambil mendengar syair, menonton film, dan membaca novel. I Saw Ramallah karya Mourid Bargouthi dan Mornings in Jenin milik Susan Abulhawa adalah 2 novel Favorit saya. Dari sanalah saya mengetahui bagaimana seorang palestina terasing selama 30 tahun dari negaranya dan bagaimana orang-orang Palestina bisa terusir pada tahun 1948. Saya bisa mengenal istilah Perjanjian Oslo, PLO, British Mandate, dan perjanjian Balfour, dan kesepakatan Sykes-Picott. Ada kejadian menarik : saat saya membaca I Saw Ramallah versi bahasa Indonesia dan Versi Bahasa arab secara bersamaan, kakak ipar saya berdecak kagum. Mengira saya tengah membaca kitab kuning dan gundul. Saya cuma bisa tertawa sembari berkata .

"Terima kasih sudah berhusnuzhan. Tapi yang saya baca ini novel, bukan kitab kuning." Lalu ia pun tertawa. Pernah sekali, saya tengah membaca novel romantis Mesir tapi kakak saya mengira itu kitab tauhid.

Saya tidak akan lupa masa pengangguran saya lebih dari setahun. Saya belajar bahwa euforia wisuda adalah semu. Bukan gerbang pengantar dunia kerja malah menjadikanmu pengangguran. Skill dan passion yang membuat saya hidup, bukan gelar sarjana. Berapa banyak orang berkecimpung di bidang studinya? Banyak orang melenceng dari jurusan kuliahnya. Saya lebih percaya mempertajam skill bertahan hidup dari pada makan bangku S2. Skill bertahan dari rasa bosan, skill sebagai ibu, skill mengambil keputusan, skill menghadapi krisis, dan skill lainnya yang tak didapat dari gelar akademik. Skill yang hanya didapat dari tempaan hidup keras.

Sebelum tulisan ini berakhir, saya katakan kenapa Gumi? Gumi adalah salah satu tokoh imut Vocaloid yang saya tahu. Dan satu lagi...gumi berarti bangkitlah dalam bahasa arab amiya.

#OneDayOnePost  #ODOPBatch5 #TantanganODOP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar